LAST UPDATES

I have been removed this blog to my own domain…

All the updates and old posts can be found in Wilrus.co.cc..

so…

Feel free to visit wilrus.co.cc

Iklan

Dampak Penurunan Harga BBM 15 Desember 2008

Per 15 Desember 2008 lalu, pemerintah kembali menurunkan harga BBM, yaitu premium sebesar Rp.500,00 dan Solar sebesar Rp.700,00 _ penurunan ini cukup sesuai dengan hasil analisis saya sebelumnya pada Analisis Menjelang Penurunan BBM. Namun, penurunan ini bukanlah harga mati, karena seusai dengan kebijakan pemerintah, harga BBM akan ditinjau setiap bulannya sesuai dengan pergerakan harga minyak dunia. Jika melihat trend harga minyak dunia sekarang yang cenderung bearish bukan tidak mungkin harga BBM di negeri kita kembali diturunkan, saya sendiri mempunyai ekspektasi harga premium bisa turun Rp.500,00 dan Solar bisa turun Rp.300,00 atau memiliki tingkat harga yang sama sebelum kenaikan terdahulu…

Banyak yang bilang, penurunan ini semata-mata untuk kepentingan politik menjelang PEMILU 2009, yah terserah saja apa pendapat Anda mengenai hal ini, namun, kita harus tetap memberikan acungan jempol terhadap pemerintah yang peduli terhadap rakyatnya. Langkah ini, saya nilai cukup tepat untuk mengurangi beban masyarakat akibat pengaruh krisis finansial global yang menjatuhkan daya beli masyarakat. Di samping itu pemerintah juga beranggapan langkah ini dapat mendorong sektor riil dan UKM dapat lebih “bernapas lega” sehingga perekonomian di negara kita dapat berjalan.

Namun, apa sich dampak yang benar-benar terjadi sekarang ini??

Saya melihat penurunan tersebut memang memberikan tambahan “energi” bagi pengusaha dalam menjalankan usahanya, namun, dari segi masyarakat daya beli memang bertambah tapi tidak akan signifikan, ini tidak lain disebabkan karena harga-harga barang lainnya yang telah naik tidak mau turun, sebagai contoh: tarif angkutan yang tidak diturunkan dengan alasan harga onderdil yang juga tidak turun, demikian seterusnya. Terakhir ORGANDA menyatakan bahwa tarif akan diturunkan sekitar 5% atau rata-rata sekitar Rp.200,00; tapi per 1 Januari 2009.. yang menurut saya terlalu lambat untuk dilakukan, karena bisa saja  harga BBM kembali berfluktuatif yang menyebabkan kebijakan tersebut kembali lagging. Yah, memang hingga sekarang ini penurunan BBM kedua kalinya ini, kurang berdampak apa-apa karena belum atau tidak dapat mendorong penurunan di sektor lainnya…

Dampak lain yang juga terjadi antara lain kerugian sejumlah SPBU dengan total kerugian mencapai sekitar 15 miliar akibat gerakan “gerilya” pemerintah yang cenderung tiba-tiba dalam menurunkan BBM, kerugian ini disebabkan karena kebanyakan SPBU tersebut telah membeli stok dalam jumlah besar dengan harga jual sebelum penurunan kedua ini. Memang, tindakan yang diambil pemerintah ini kurang fair bagi pengusaha tapi melihat gerak-gerik sejumlah SPBU pada penurunan BBM yang pertama yang cenderung menahan pembelian yang berakibat masalah baru, yaitu kelangkaan BBM, membuat langkah ini sedikit “manusiawi”. Apapun itu, saya tidak ingin membahas lebih jauh mengenai hal ini, tapi yang pasti sekarang sejumlah pengusaha sedang meminta ganti rugi walaupun tidak semua guna mengurangi kerugian mereka.

Yang terakhir, terus terang ini merupakan perkiraan saya, yang saya harap tidak akan menjadi kenyataan… Penurunan BBM dapat menimbulkan pemborosan berlebih dalam penggunaannya yang tentunya akan merugikan bangsa kita sendiri apabila BBM menjadi “Benar-Benar Melangka”, ini bisa saja terjadi mengingat cadangan minyak Indonesia, menurut perkiraan, hanya sampai 2019 jika tidak dilakukan eksplorasi kembali.

Sebagai warga negara yang bijak seharusnya penurunan BBM ini bukanlah menjadi momen bagi kita untuk ber-“boros-boros” ria, namun jadikanlah ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan produktivitas Anda maupun perusahaan Anda… Sekali lagi, kita harus tetap memberikan penghargaan pada pemerintah karena telah menurunkan harga BBM, walaupun ada suara-suara miring yang bilang “Masa cuma segini, masa cuma segitu..”, apapun itu lebih bagus turun daripada tidak sama sekali bukan??..;-p

ANALISIS MENJELANG PENURUNAN HARGA BBM!

Perlukah harga BBM diturunkan??

Saya sangat yakin mayoritas rakyat Indonesia pasti menjawab PERLU… Setelah melihat perkembangan harga minyak dunia, pemerintah pun pada akhirnya memutuskan untuk menurunkan harga BBM bersubsidi, yaitu premium, meskipun dilakukan secara ‘mencicil’ dan hanya sebesar Rp.500,00 pada 1 Desember 2008. Namun, penurunan harga jenis BBM terpopuler di Indonesia ini tidak diikuti dengan penurunan ‘rekan sejawatnya’, yaitu solar.

Tepatkah penurunan premium hanya Rp.500,00?

Sebagian orang menganggap seharusnya premium diturunkan lebih dari 500 rupiah, mengacu pada harga minyak dunia yang terus merosot akhir-akhir ini. Namun, saya mempunyai pendapat sendiri, yang akan disampaikan melalui artikel ini.

Bercermin dari persoalan di atas, saya mencoba menganalisis berdasarkan sumber-sumber yang sudah saya dapatkan mengenai tepat atau tidaknya keputusan yang diambil oleh pemerintah.

Tabel Pemakaian BBM per Bulan di Indonesia

JENIS BBM

PEMAKAIAN

(1000 KILO LITER/BULAN)

BENSIN

1622

SOLAR

994

MINYAK TANAH

673

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa bensin (premium) masih merupakan BBM paling favorit di Indonesia. Premium sendiri mayoritas digunakan oleh UKM, sementara solar mayoritas digunakan untuk industri , transportasi, dan jutaan rakyat miskin di Indonesia. Dilihat dari penggunanya, tidak salah jika harga solar perlu ikut diturunkan karena mencakup kepentingan publik.

Mengapa SOLAR belum diturunkan??

Pemerintah memberi alasan bahwa harga solar di pasaran internasional lebih mahal sehingga subsidi terhadap solar tidak dapat ditambah lagi dan berbagai alasan lainnya.

Alasan ini memang benar, sebab di pasaran internasional harga solar lebih tinggi daripada premium. Namun yang menjadi masalah solar yang dipakai di Indonesia, tentunya dibuat di Indonesia, sehingga menurut hemat saya, acuan subsidi yang perlu diberikan oleh pemerintah seharusnya berdasarkan biaya pokok produksi BBM, bukan harga pasaran internasional. Sebab bila kita mengacu kepada harga pasar internasional maka komponen yang diperhitungkan bukan hanya biaya produksi, melainkan juga turut memperhitungkan kurs mata uang kita_yang pada akhir-akhir ini cenderung melemah terhadap US dollar.

Berdasarkan pandangan beberapa pengamat perminyakan di Indonesia, biaya pokok pembuatan premium berkisar di level 4000-an, dengan asumsi harga minyak dunia $ 55/barrel dan kurs rupiah terhadap US dollar sebesar 12000. Harga pokok premium dan solar juga tidak jauh berbeda sehingga dapat diasumsikan sama. Jadi, sebenarnya modal yang dikeluarkan oleh pemerintah ‘hanya’ sekitar Rp.4000,00 untuk kedua jenis BBM tersebut.

Namun dengan mengandai-andai saya berada di posisi pemerintah, alasan lain yang bisa jadi turut menyebabkan solar belum diturunkan adalah kekhawatiran akan naiknya kembali harga minyak dunia, tidak perlu sampai lebih dari $ 100, disertai dengan semakin melemahnya kurs rupiah terhadap US $. Karena jika pemerintah telah merealisasikan penurunan harga solar, namun ternyata harga minyak dunia kembali naik maka pemerintah terpaksa harus menaikkan BBM kembali, yang tentunya akan datang berbagai protes seperti yang terjadi ketika kenaikan harga BBM dulu yang menurut saya menimbulkan semacam ‘trauma’ bagi pemerintah sekarang sehingga menjadi ragu mengambil keputusan. Dengan keputusan pemerintah yang cenderung plin-plan, pastinya akan ada pihak-pihak yang berusaha untuk mengambil kesempatan dengan semakin memperkeruh suasana_terutama menjelang pemilu 2009 mendatang. Ini tentunya bukanlah kondisi yang saya inginkan bila saya berada di posisi pemerintahan. Ketakutan pemerintah tersebut, sekarang ini ‘sedikit’ menjadi kenyataan melalui gerakan OPEC yang akan menurunkan tingkat produksinya untuk mencegah turunnya harga minyak dunia lebih jauh yang disebabkan oleh kelebihan penawaran pada akhir-akhir ini.

Jadi mana yang benar, SOLAR perlu turun atau tidak??

Terserah Anda mau pilih yang mana. Tapi sebagai seorang mahasiswa, yang dianggap kaum intelek atau juga kaum yang terlalu idealis dan kaum ‘sok tahu’, saya tetap mengacu pada biaya pokok produksi sebagai acuan besarnya subsidi namun, tetap tidak melupakan kecenderungan melemahnya kurs rupiah terhadap dollar. Saya sendiri menganggap solar harus diturunkan dengan pertimbangan-pertimbangan, yaitu pertumbuhan ekonomi dunia pada kuartal ini mengalami penurunan, yang berarti menunjukkan terjadinya perlambatan ekonomi di seluruh dunia. Dengan demikian, pasar minyak akan ikut melemah, terbukti dari merosotnya permintaan terhadap minyak dunia yang berakibat pada menurunnya harga minyak dunia. Langkah OPEC yang akan menurunkan tingkat produksi, tidak perlu ditakutkan karena sekali lagi kita yang memproduksi minyak kita sendiri. Dan negara-negara lain sudah pasti akan berusaha menghemat pengeluaran-pengeluaran mereka termasuk terhadap BBM, bahkan bukan tidak mungkin menerapkan energi alternatif yang lebih murah dari segi ongkos.

Penurunan harga BBM (solar dan premium) juga akan menimbulkan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Penurunan premium akan meningkatkan daya beli dari UKM, sementara solar akan meningkatkan daya beli masyarakat umum sehingga sektor riil meningkat, produsen dapat memproduksi barang-barang yang kali ini laku terjual. Langkah ini juga dapat mengurangi timbulnya resesi akibat krisis ekonomi global.

Berapa besarannya??

Seperti yang telah diungkapkan oleh pengamat perminyakan, saya setuju jika solar diturunkan Rp.500,00/liter, tetapi untuk premium saya lebih memilih diturunkan sebesar Rp.1000,00/liter dari Rp.1500,00/liter jika benar-benar mengacu pada biaya pokok produksi. Kenapa? Sebab Rp.500,00/liter ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk menutupi biaya penurunan solar yang sebelumnya menurut pemerintah tidak dapat diberi tambahan subsidi lagi. Selain itu, jika terjadi fluktuasi harga minyak, Rp.500,00/liter juga bisa memberikan ‘napas’ yang lebih panjang bagi pemerintah.

Yah sekedar saran saya untuk rekan-rekan, kita harus melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Negara ibarat rumah bagi kita, jadi kalau memang sedang dirudung masalah (seperti, kenaikan harga minyak dunia yang signifikan) seyogyanya kita mendukung kebijakan yang dilakukan oleh kepala keluarga kita walaupun itu terasa menyakitkan bagi kita (kenaikan harga BBM). Proteslah jika memang ada penyelewangan tapi jangan kelewatan.. peace!!

Kolom ini hanya sekedar pendapat dengan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan siapa-siapa..


Artikel lain yang Berkaitan:

Asal Mula Krisis Ekonomi Global

gbrmoneterSeperti yang kita ketahui bersama hingga sekarang perbincangan mengenai krisis ekonomi global kian marak. Setiap hari saluran berita televisi lokal selalu menayangkan perkembangan terkini seputar perekonomian dunia dan para investor di negeri ini masih ‘dag-dig-dug’ tentang pengaruh krisis tersebut terhadap Indonesia. Banyak negara di dunia mulai terkena imbas krisis ekonomi sekarang ini, salah satu negara maju, Jerman, menjadi contoh yang paling mencengangkan, tak disangka akibat krisis ini telah menimbulkan resesi di Jerman yang memaksa mereka untuk ‘ merumahkan’ sebagian besar tenaga kerja dan menyebabkan berhentinya beberapa kegiatan produksinya. Dari dalam negeri, pertanda buruk terlihat dari IDX (Indonesia Stock Exchange) , IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) terjun bebas dari posisi digdaya sekitar 2800-an hingga sekarang yang masih berkutat antara 1100 sampai 1300-an. Bahkan makin memburuknya bursa saham di seluruh dunia belakangan ini, bisa jadi membuat IHSG kita turun dibawah 1000. Bahkan, diprediksi hingga pertengahan semester 2009 mendatang, akan banyak terjadi PHK seperti yang terjadi saat 1998 lalu.

Sebenarnya apa sich penyebab krisis ekonomi global??

Mungkin kita pernah mendengar, kejatuhan ekonomi dunia dimulai dari negara Amerika Serikat yang hingga sekarang masih menjadi barometer perekonomian dunia. Jadi wajar saja, ketika perekonomian AS jatuh, perekonomian dunia juga ikut terimbas dampaknya.

Tapi, mengapa negara sekuat AS dapat ‘hancur-lebur’ perekonomiannya?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus kembali ke era 80-an, dimana pada saat itu AS juga tengah mengalami masa-masa melambatnya perekonomian. Untuk merangsang perekonomiannya, pada tahun 1986, pemerintah AS menetapkan reformasi pajak, salah satunya berisi pengurangan pajak bagi pembelian rumah, yang berlaku untuk setiap rumah yang dibeli (boleh lebih dari satu). Mengapa? Karena pada saat itu, boleh dibilang rata-rata penduduk AS sudah makmur dan mempunyai rumah sehingga mereka tidak terdorong lagi untuk membeli rumah yang ke-2, ke-3, dst. Hal ini menyebabkan sektor properti_yang merupakan salah satu penggerak perekonomian AS terhambat pertumbuhannya. Maka ‘jalan baru’ ini dibuat untuk kembali meningkatkan properti AS. Bahkan, pembelian rumah boleh dilakukan dengan cara kredit yang disebut mortgage (semacam KPR,walaupun berbeda) yang telah ditetapkan sejak tahun 1925. Mortgage ini diberikan hanya kepada orang yang telah melewati standar tertentu, berupa penghasilan yang besarannya harus melebihi standar yang ditetapkan.

Dengan adanya fasilitas pajak tersebut, gairah bisnis perumahan meningkat drastic menjelang tahun 1990 dan berlanjut hingga 12 tahun kemudian. Besaran mortgage yang sebelumnya hanya USD 150 miliar setahun meningkat menjadi dua kali lipat pada tahun-tahun berikutnya dan bahkan mencapai USD 700 miliar pada tahun 2004.

Lalu apa efeknya?

Peningkatan secara signifikan penjualan rumah sejak 1990-2004 bukan hanya disebabkan oleh fasilitas pajak. Adanya fasilitas tersebut dilihat sebagai peluang emas bagi ‘para pelaku bisnis keuangan’ untuk membesarkan perusahaan mereka dan meningkatkan laba. Jadilah, mereka berbondong-bondong menjual rumah dengan memberikan kredit kepada masyarkat AS terus menerus yang menyebabkan permintaan rumah menjadi tinggi sehingga harga rumah dan tanah semakin naik dan bahkan melebihi bunga bank. Keadaan ini kemudian dimanfaatkan oleh pemilik rumah dalam upaya mendapatkan laba, setelah rumahnya lunas, di-mortgage-kan kembali untuk membeli rumah berikutnya. Yang di bawah standar, bisa mendapatkan kredit dengan harapan harga rumah semakin tinggi. Kalau tidak sanggup membayar, bank masih untung karena harga rumah yang tinggi. Jadi tidak ada kata takut bagi bank untuk memberikan kredit rumah.

Namun, bank juga mempunyai batasan kredit yang diatur dalam UU perbankan sehingga memaksa mereka untuk bekerja sama dengan investment banking yang secara singkat fungsinya semcam broker, contohnya Lehman Brothers, Bear Stern, dll. Lembaga ini sangat agresif dalam meningkatkan keuntungan perusahaan yang tidak lain disebabkan karena kebebasan-kebebasan yang dimiliki dibandingkan bank-bank secara umum sehingga orang-orang yang kurang memenuhi syarat (suprime) dirangsang untuk meminta mortgage.

Bagan derivatives

Sumber : Subprime Mortgage Credit Derivatives, Fabozzi

Bank atau lembaga keuangan yang memberikan kredit juga telah menjaminkan rumah ke bank atau lembaga keuangan lain. Bank dan lembaga keuangan yang menjadi penjamin juga menjaminkan rumah tersebut ke bank dan lembaga lainnya demikian seterusnya hingga terjadi multiplier effect yang berkisar 30-60%, terlihat dari bagan di atas. Efek ini terus berlanjut ke berbagai produk derivatif di bawahnya, seperti surat berharga, futures, options, CDO, dsb. yang tersebar ke berbagai belahan dunia. Karena adanya sistem margin dari produk derivatif ini dimana kita dapat bertransaksi walaupun dana yang dimiliki tidak cukup menyebabkan banyak uang virtual yang diciptakan yang besaranya jauh melebihi uang yang ada sesungguhnya.

Dan akhirnya…

Ketika kondisi gagal bayar terjadi, hal yang tidak menjadi masalah jika hanya sebagian pihak tertentu saja, dan meningkat signifikan secara bersamaan. Menyebabkan banyak rumah yang disita, rumah yang dijual juga sangat banyak untuk menutupi gagal bayar yang terjadi. Ini tentunya menyebabkan penawaran rumah jauh melebihi permintaan sehingga harga rumah anjlok. Anjloknya harga rumah berimbas pada nilai jaminan rumah yang tidak sesuai dengan nilai pinjaman, yang akhirnya menyebabkan semakin banyak gagal bayar yang terjadi.

Jadi ketika timbul kondisi gagal bayar, terutama dari golongan suprime dan Alt-A efeknya terus terimbas secara tak berhingga banyaknya sehingga dari USD 1,6 trilliun membengkak menjadi USD 5 trilliun, besaran yang diperkirakan termasuk dalam mortgage. Jadi keinginan Presiden Bush untuk menyuntikkan dana sebesar USD 700 miliar guna menyelesaikan masalah memang patut dipertanyakan. Itulah yang menyebabkan keputusan dikeluarkan atau tidaknya dana tersebut berlarut-larut.

Jadi kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang “menabung”-kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang saat ini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah dan ditambah dengan kepemilikan modal asing di dalam negeri, Indonesia akan terseret ke dalamnya, rasanya tidak banyak, jika pengaruhnya dibandingkan dengan pengaruh pada Singapura, Hongkong, atau Cina.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi pusat beroperasinya raksasa keuangan dunia. Sedangkan Cina akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Cina yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran kesana. Sementara itu, kita, setidaknya masih bisa menanam jagung dan memanen padi. ;-P

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–> <!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Artikel lain yang Berkaitan:

Belajar Dasar-Dasar Bermain Saham:Pengantar

Melihat gejolak krisis ekonomi global sekarang yang tentu sangat berimbas terhadap perekonomian nasional, menimbulkan kengerian bagi banyak orang terutama kalangan investor… Investor Indonesia yang terutama terjun di pasar modal tentu masih belum lupa peristiwa ‘terjun bebas-nya’ IHSG dari posisi digdaya 2800 pada awal 2008 hingga menuju level terendahnya sepanjang tahun ini yaitu 1100… Setelah itu indeks berulangkali mengalami kenaikan dan penrunan dengan range berkisar 1200 sampai 1300-an. Kondisi jatuhnya harga-harga saham di IHSG ini oleh sebagian orang dianggap sudah terlalu murah sehingga layak untuk dijadikan investasi yang “baik” dengan pertimbangan kondisi fundamental yang baik dari mayoritas perusahaan-perusahaan di bursa.

Tapi,,,

Kalau Anda memang sudah mengerti tentang dunia pasar modal Indonesia mungkin Anda sudah tahu langkah-langkah apa yang akan diambil, mau investasi dimana, dll… tp bagi Anda yang pemula, setelah membaca kata “fundamental” pada kalimat di atas, mungkin membuat Anda bingung (fundamental itu apa ya??,dsb..), bahkan bagi sebagian pemula yang punya ‘duit’ malah mungkin sudah terjun ke bursa setelah mendengar pemberitaan pada beberapa waktu lalu, yang mengatakan kondisi harga-harga di bursa sudah terlalu rendah, tanpa disertai dengan pengetahuan yang cukup tentang pasar modal alias hanya  “latah” saja…

Kalau untung sih, selamat buat Anda.. Anda cukup beruntung… Tapi kalau buntung??… hanya penyesalan yang Anda terima sebagai imbalan dari investasi Anda… Seorang investor yang baik akan  berinvestasi pada bidang yang memang telah dipahaminya dan yang memang akan mendatangkan keuntungan bagi dirinya… Sedangkan, bagi Anda yang tidak tahu menahu sama sekali, maka Anda tidak ubahnya sebagai seorang penjudi yang menunggu dewi fortuna datang menghampiri…

Untuk itu, sebelum Anda benar-benar terjun berinvestasi, khususnya ke pasar modal, Anda harus mempersenjatai diri Anda disertai dengan amunisi yang cukup sehingga risiko yang ada menjadi berkurang dan bahkan menjadi seorang “Smart Investor” … Dalam artikel selanjutnya, saya yang juga masih “newbie” akan memberikan tutorial mengenai saham dari sangat basic sekali, mungkin agar lebih mudah saya akan menyesuaikan dengan kurikulum KSEP ITB ditambah dengan pengalaman-pengalaman saya selama ini…  So, just wait for my next post…;-p

“Jangan pernah berhenti untuk belajar tapi berhentilah untuk menjadi seorang yang teoritis.”

My Plan…

Sorry… gara2 ad tugas ma lg kurang ad event yg ‘greget’ jd ga ad artikel analisis lg yg mw dposting…

meanwhile, nanti bgtu tugas beres n trutama UAS berakhir kayana mw nambah kategori lg, ttg belajar saham… Y mw bagi-bagi ilmu yg ud d dapet slama ini c… hehehe

Tentunya ilmunya, ga jauh2 dari yg d ajarin dr KSEP ITB.. Tp masi skedar rencana c…

jd tunggu aj…wkwkw… singkat n padat kn postingan kali ini…

Dampak Penurunan Premium?!?

Kalo kita perhatikan akhir-akhir ini berita-berita di televisi marak memberitakan dampak dari penurunan BBM jenis premium untuk menunggu kebenaran dari analisis penurunan harga BBM yang pernah saya posting sebelumnya memang masih harus menunggu waktu yang lebih lama…
Tapi yang bikin bingung, sekarang itu bukan dampak positif yang timbul melainkan dampak negatif yang bermunculan dimana-mana…. Terutama perihal langkanya premium di pasaran….
Terus terang melihat fenomena ini cukup membuat miris hati saya, sebenarnya ini yang salah dimana sich??
Yang salah tidak hanya di pemerintah tapi juga dari kita sendiri sebagai masyarakat… Tapi saya merasa kita sebagai masyarakat yang lebih bersalah, boleh dikatakan ‘tidak tahu diri’. Sebab penyebab utama kelangkaan adalah para pemilik SPBU yang tentunya juga anggota masyarakat, dan mungkin kita yang sehari-hari makin boros dalam memakai bensin… Pemerintah tentu juga mengetahui hal yang akan terjadi ini, makanya stok premium sempat ditambah tapi tetep aja, budaya bangsa kita yang tukang ‘aji mumpung’, “mumpung harga mau diturunin, kita tunggu aja dulu tar pas turun, kita baru beli bensin” begitu pasti pikiran sebagian besar rakyat kita. Apakah ini salah?? ya ngga lah, sifat natural dari manusia kalo ingin untung, mana ada manusia yang pengen rugi… Cuma yang disayangkan pikiran ini ga cuma dimiliki oleh masyarakat pengguna, masyarakat penyedia BBM (pemilik SPBU) juga ikut-ikutan… karena tahu harga mau turun, walaupun stok BBM tinggal dikit, males nyetok lagi dhe mereka, takut rugi katanya. Pas udah turun, baru dhe mereka pesen… Masalahnya pas mesen itu butuh waktu buat nyampenya, kan ga mungkin kalo baru pesen, eeh 1 menit kemudian nyampe… wong bawaanya banyak gt…. Nah kalo cuma 1 atau 2 SPBU sich ga apa-apa, tapi kalo banyak gimana??..
Akhirnya kan yang rugi kita-kita juga sebagai masyarakat… Makin boros aja BBM yang terbuang buat ngantri di SPBU-SPBU..  Kalo kaya gini yang terjadi, pemerintah andaikan kita analogikan sebagai ‘bos besar’ pasti kecewa dengan kelakuan karyawan-karyawannya, ibaratnya udah dinaekin gaji tapi malah nglunjak…. Kesalahan pemerintah memang ada, terletak pada kurangnya antisipasi terhadap penurunan BBM ini, harusnya sebelum diturunkan pemerintah menetapkan semacam ‘safety stock’   di setiap SPBU mengenai kuota minimal BBM yang harus dipenuhi, jadi kejadian seperti yang terjadi sekarang dapat dikurangi… Untuk menghilangkan sich saya rasa susah karena memang watak negara ini untuk selalu ambil untung di setiap kesempatan..
Di setiap masalah selalu ada titik cerah, setidaknya kebijakan pemerintah yang berani menurunkan harga BBM, walaupun harusnya sudah dari dulu dilakukan, patut diacungi jempol… Ini membuktikan pemerintah masih peduli terhadap rakyat, tapi semoga saja pandangan skeptis dari beberapa pihak yang mengatakan bahwa kebijakan penurunan BBM ini hanya merupakan langkah politis untuk menaikkan pamor pemerintah tidak benar sama sekali…
Buat masyarakat, meskipun BBM udah turun, jangan boros-boros pemakaiannya, tetep biasa aja… Kalau dipakai untuk usaha yang produktif (jadi bisa balik dengan added value  bagi kemajuan bangsa sich ga masalah) tapi kalo cuma buat sekedar seneng-seneng, mending jangan dhe… Ingat, minyak diproduksi dari lingkungan kita, jadi menghemat penggunaan BBM merupakan salah satu upaya untuk melestarikan lingkungan… peace…

Artikel lain:

Bilangan Random?? OGah banget dhe..

Aduh gara2 tugas RSK wkt maen gw abis… hwhwh….

ptama2 mikir bikin jadwal pake bilangan random bakal cepet…

e tnyata, lama juga… swt,..

mana ini baru bikin LP(Lembar Pengamatan)1  lg…

blum LP2,LP3,dst…

Gimana besok neh… yang bakal bolak-balik kluar kelas… dalam interval 4 menit?? secara total pengamatan perhari mesti 80!!… swt2… (tapi msi mending dibandingin YOHAN!! haha… selamet han, kelompok lu mantaph!! wkwkwk..)

mskpn tugas kelompok, tetep aj bakal sering kluar kelas… tp penasaran jg c lyat suasana kelas besok, nampaknya bakal banyak yang keluar2.. hwhwhw… let’s us see…

Untungnya ne pengamatan cm bwat 3 hari gmn cb klo sminggu?? bisa gempor abis kluar kelas tyap hari… bgtu jm pulang ga bs pulang… smoga datanya da cukup dalam waktu 3 hr,,, jgn nyampe harus ad hari pengmatan ke-4 dst… Bs tmbh puyeng… blum nyusun ‘karya ilmiahnya’.

Tapi dibalik itu smua… bakal seneng ne stlh selese…. tugas besar ilang satu, dapet skill baru yang bagus jg.. itung waktu baku!! hohoho… salah satu skill Teknik Industri  yg penting… So, nikmatin aj la pendritaan ‘singkat’ ini… hanya 2 minggu sbelm smuanya bener2 usai… ttp smangat..;p