Perlukah harga BBM diturunkan??
Saya sangat yakin mayoritas rakyat Indonesia pasti menjawab PERLU… Setelah melihat perkembangan harga minyak dunia, pemerintah pun pada akhirnya memutuskan untuk menurunkan harga BBM bersubsidi, yaitu premium, meskipun dilakukan secara ‘mencicil’ dan hanya sebesar Rp.500,00 pada 1 Desember 2008. Namun, penurunan harga jenis BBM terpopuler di Indonesia ini tidak diikuti dengan penurunan ‘rekan sejawatnya’, yaitu solar.
Tepatkah penurunan premium hanya Rp.500,00?
Sebagian orang menganggap seharusnya premium diturunkan lebih dari 500 rupiah, mengacu pada harga minyak dunia yang terus merosot akhir-akhir ini. Namun, saya mempunyai pendapat sendiri, yang akan disampaikan melalui artikel ini.
Bercermin dari persoalan di atas, saya mencoba menganalisis berdasarkan sumber-sumber yang sudah saya dapatkan mengenai tepat atau tidaknya keputusan yang diambil oleh pemerintah.
Tabel Pemakaian BBM per Bulan di Indonesia
|
JENIS BBM |
PEMAKAIAN (1000 KILO LITER/BULAN) |
|
BENSIN |
1622 |
|
SOLAR |
994 |
|
MINYAK TANAH |
673 |
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa bensin (premium) masih merupakan BBM paling favorit di Indonesia. Premium sendiri mayoritas digunakan oleh UKM, sementara solar mayoritas digunakan untuk industri , transportasi, dan jutaan rakyat miskin di Indonesia. Dilihat dari penggunanya, tidak salah jika harga solar perlu ikut diturunkan karena mencakup kepentingan publik.
Mengapa SOLAR belum diturunkan??
Pemerintah memberi alasan bahwa harga solar di pasaran internasional lebih mahal sehingga subsidi terhadap solar tidak dapat ditambah lagi dan berbagai alasan lainnya.
Alasan ini memang benar, sebab di pasaran internasional harga solar lebih tinggi daripada premium. Namun yang menjadi masalah solar yang dipakai di Indonesia, tentunya dibuat di Indonesia, sehingga menurut hemat saya, acuan subsidi yang perlu diberikan oleh pemerintah seharusnya berdasarkan biaya pokok produksi BBM, bukan harga pasaran internasional. Sebab bila kita mengacu kepada harga pasar internasional maka komponen yang diperhitungkan bukan hanya biaya produksi, melainkan juga turut memperhitungkan kurs mata uang kita_yang pada akhir-akhir ini cenderung melemah terhadap US dollar.
Berdasarkan pandangan beberapa pengamat perminyakan di Indonesia, biaya pokok pembuatan premium berkisar di level 4000-an, dengan asumsi harga minyak dunia $ 55/barrel dan kurs rupiah terhadap US dollar sebesar 12000. Harga pokok premium dan solar juga tidak jauh berbeda sehingga dapat diasumsikan sama. Jadi, sebenarnya modal yang dikeluarkan oleh pemerintah ‘hanya’ sekitar Rp.4000,00 untuk kedua jenis BBM tersebut.
Namun dengan mengandai-andai saya berada di posisi pemerintah, alasan lain yang bisa jadi turut menyebabkan solar belum diturunkan adalah kekhawatiran akan naiknya kembali harga minyak dunia, tidak perlu sampai lebih dari $ 100, disertai dengan semakin melemahnya kurs rupiah terhadap US $. Karena jika pemerintah telah merealisasikan penurunan harga solar, namun ternyata harga minyak dunia kembali naik maka pemerintah terpaksa harus menaikkan BBM kembali, yang tentunya akan datang berbagai protes seperti yang terjadi ketika kenaikan harga BBM dulu yang menurut saya menimbulkan semacam ‘trauma’ bagi pemerintah sekarang sehingga menjadi ragu mengambil keputusan. Dengan keputusan pemerintah yang cenderung plin-plan, pastinya akan ada pihak-pihak yang berusaha untuk mengambil kesempatan dengan semakin memperkeruh suasana_terutama menjelang pemilu 2009 mendatang. Ini tentunya bukanlah kondisi yang saya inginkan bila saya berada di posisi pemerintahan. Ketakutan pemerintah tersebut, sekarang ini ‘sedikit’ menjadi kenyataan melalui gerakan OPEC yang akan menurunkan tingkat produksinya untuk mencegah turunnya harga minyak dunia lebih jauh yang disebabkan oleh kelebihan penawaran pada akhir-akhir ini.
Jadi mana yang benar, SOLAR perlu turun atau tidak??
Terserah Anda mau pilih yang mana. Tapi sebagai seorang mahasiswa, yang dianggap kaum intelek atau juga kaum yang terlalu idealis dan kaum ‘sok tahu’, saya tetap mengacu pada biaya pokok produksi sebagai acuan besarnya subsidi namun, tetap tidak melupakan kecenderungan melemahnya kurs rupiah terhadap dollar. Saya sendiri menganggap solar harus diturunkan dengan pertimbangan-pertimbangan, yaitu pertumbuhan ekonomi dunia pada kuartal ini mengalami penurunan, yang berarti menunjukkan terjadinya perlambatan ekonomi di seluruh dunia. Dengan demikian, pasar minyak akan ikut melemah, terbukti dari merosotnya permintaan terhadap minyak dunia yang berakibat pada menurunnya harga minyak dunia. Langkah OPEC yang akan menurunkan tingkat produksi, tidak perlu ditakutkan karena sekali lagi kita yang memproduksi minyak kita sendiri. Dan negara-negara lain sudah pasti akan berusaha menghemat pengeluaran-pengeluaran mereka termasuk terhadap BBM, bahkan bukan tidak mungkin menerapkan energi alternatif yang lebih murah dari segi ongkos.
Penurunan harga BBM (solar dan premium) juga akan menimbulkan dampak positif bagi perekonomian dalam negeri. Penurunan premium akan meningkatkan daya beli dari UKM, sementara solar akan meningkatkan daya beli masyarakat umum sehingga sektor riil meningkat, produsen dapat memproduksi barang-barang yang kali ini laku terjual. Langkah ini juga dapat mengurangi timbulnya resesi akibat krisis ekonomi global.
Berapa besarannya??
Seperti yang telah diungkapkan oleh pengamat perminyakan, saya setuju jika solar diturunkan Rp.500,00/liter, tetapi untuk premium saya lebih memilih diturunkan sebesar Rp.1000,00/liter dari Rp.1500,00/liter jika benar-benar mengacu pada biaya pokok produksi. Kenapa? Sebab Rp.500,00/liter ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk menutupi biaya penurunan solar yang sebelumnya menurut pemerintah tidak dapat diberi tambahan subsidi lagi. Selain itu, jika terjadi fluktuasi harga minyak, Rp.500,00/liter juga bisa memberikan ‘napas’ yang lebih panjang bagi pemerintah.
Yah sekedar saran saya untuk rekan-rekan, kita harus melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Negara ibarat rumah bagi kita, jadi kalau memang sedang dirudung masalah (seperti, kenaikan harga minyak dunia yang signifikan) seyogyanya kita mendukung kebijakan yang dilakukan oleh kepala keluarga kita walaupun itu terasa menyakitkan bagi kita (kenaikan harga BBM). Proteslah jika memang ada penyelewangan tapi jangan kelewatan.. peace!!
Kolom ini hanya sekedar pendapat dengan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan siapa-siapa..
Artikel lain yang Berkaitan:
DIarsipkan di bawah: EKONOMI | Ditandai: analisis, penurunan harga BBM, premium turun





